Rasa Kidung, Engwang Suksma Adiluhung, Yang Widhi, Oleh Kridaning Gusti, Gelar Gulung Kersaning Kang Maha Kuasa - "REYOG"

9/14/2017

Peluang Usaha Digital Market untuk Siswa

Ponorogo Town - Penduduk di Indonesia sebagian besar sudah menggunakan smartphone sebagai bagian dari kegiatan sehari-hari yang tidak terpisahkan. Smartphone merupakan salah satu fasilitas yang bisa dinikmati oleh siapapun, termasuk para pelajar. Bukan hanya untuk memudahkan berkomunikasi, tapi juga memudahkan akses di internet serta media sosial. Hasil penelitian terbaru mencatat pengguna internet di Indonesia yang berasal dari kalangan anak-anak dan remaja diprediksi mencapai 30 juta. Sebanyak 98 persen dari anak dan remaja mengaku tahu tentang internet dan 79,5 persen diantaranya adalah pengguna internet.

Di era digital seperti saat ini penggunaan hape di kalangan pelajar tidak selalu berkonotasi negatif, malahan bisa berbalik membawa keuntungan. Tapp Market yang dikenal sebagai aplikasi Android berbasis di Finlandia dan berkonsep marketplace dengan pembayaran berbasis tunai, telah membuktikan hal ini kepada kalangan pelajar dengan mengajak menjadi pengusaha digital kecil-kecilan cukup dengan menggunakan hape. Tapp Market area Madiun yang telah beberapa kali melakukan sosialisasi di berbagai Sekolah Menengah Kejuruan dan dihadiri ribuan siswa boleh merasa bangga.


Kebanggaan itu muncul atas antusiasme para siswa untuk berwirausaha tanpa mengganggu jam sekolah mereka. Siswi SMK Negeri Badegan Ponorogo yang sudah menggunakan apilkasi Tapp Market. “Saat ini Tapp Market tengah berusaha secara maksimal untuk mengajak para pelajar agar memulai berwirausaha digital Bersama Tapp Market. Kunjungan ke SMK di wilayah Ponorogo sudah menjadi kegiatan rutin kami saat ini, seperti halnya yang pernah kami lakukan ke Kampus-kampus. Seperti yang terakhir kami lakukan, kunjungan Tapp Market ke SMK Negeri Badegan Ponorogo, para siswa sangat antusias untuk tahu lebih banyak mengenai Tapp Market,” ungkap Ikhwan Baihaki, Area Manager Tapp Market Madiun.

9/30/2015

Telapak kaki Ibu

Ibu. . . setelah melihat seraut wajah beliau yang membukakan pintu, tiba-tiba hening . . . Ibu adalah wanita yang melahirkan saya. Beliau selalu memperhatikan saya, menyayangi dan mengasihi, hingga bisa bergerak, merangkak, berjalan dan berlari mengelilingi ruang dan waktu. Beliau tetap setia mendampingi jiwa raga ini seiring rambutnya yang memutih dan ingatan menurun. Terkadang engkau lupa gula dan garam dapur hingga tertidur di kursi menuggu orang yang engkau cintai dengan sebuah kipas dipangkuanmu. . .

9/12/2015

The Thinker

Empat tahun telah berlalu, namun perjalanan di bangku perkuliahan belum berakhir, Sekripsi masih menjadi misteri bagi saya sendiri. Selain kuliah, saya bergabung dengan "Simo Budi Utomo", dan belajar mulai dari angka 0 tentang organisasi dan kehidupan berkesenian Reyog Ponorogo.


Pada suatu ketika, saya bertemu dengan seniman dengan latar belakang yang berbeda yang sampai sekarang masih berapi-api berkarya menjaga warisan leluhur. Hingga detik ini, saya mengenal seorang anak manusia, beliau disebut teman-temannya seorang seniman. Namun kalau saya, karena senang memberi pengetahuan, beliau adalah guru. Walaupun kuliahnya belum juga tuntas dan telah berlalu. 3:)
Beliau mempunyai pemikiran tentang Kesenian Reyog. Setiap kali bertemu dengan saya dan teman-teman lain, beliau tak lupa bercerita tentang pemikiran tersebut. Sesekali beliau menyatakan pemikirannya dalam pertunjukan Reyog Obyok di beberapa desa. "Memang seorang yang teguh pendirian tentang cita dan cinta".

4/24/2015

sang Penghibur


Tarian dan iringannya dikemas sedemikian rupa sehingga tercipta pertunjukan apik. Orang awam umumnya menganggap menikmati/ menonton pertunjukan adalah suatu hiburan dengan imbal balik riuh tepuk tangan. Apalagi kalau pemainnya adalah sanak saudara. Lain lagi dengan seorang pengamat/ seniman, wajarnya terlebih dahulu mereka mengamati pertunjukan dengan perasaan yang telah berbumbu pengetahuan dan pengalamannya.

12/09/2014

udeng

Iket atau totopong (Sunda) atau udeng (Bali) adalah penutup kepala dari kain merupakan bagian dari kelengkapan sehari-hari pria di pulau Jawa dan Bali, sejak masa silam sampai sekitar awal tahun 1900-an dan mulai populer kembali pada tahun 2013. Penggunaan iket bagi pria akil balik pada masa lalu menjadi keharusan karena dipercaya melindungi mereka dari roh-roh jahat, selain untuk fungsi-fungsi praktis seperti wadah /pembungkus, selimut, bantalan untuk mengangkut beban di kepala dsb, sedangkan saat ini lebih diperuntukkan sebagai aksesoris dan upaya melestarikan budaya. (doc. wikipedia).

Iket-totopong-udeng juga ada di Ponorogo yang lebih dikenal dengan udeng. Udeng Ponorogo mempunyai motif batik yang berbeda. Di antaranya Motif Gadung Melati dan Motif Cemukiran. Fungsinya tetap sama yaitu sebagai ikat kepala. Hanya saja pada suatu ketika bisa berubah fungsi pemakaian menjadi ikat tangan, masker hidung/mulut, ikat pinggang, atau digunakan untuk pengikat kepala belakang Caplokan Kucingan.

Seiring perubahan dan perkembangan zaman, pengrajin udeng memodifikasi motifnya untuk memenuhi kebutuhan konsumen, misalnya dengan membelah kain udeng persegi menjadi segitiga dan menambahan kain garis warna merah ataupun kuning pinggir. Selain motif yang berbeda, terdapat beberapa cara pemakaian yang menghasilkan bentuk bermacam-macam.

11/23/2014

Baru dan Muda

Ponorogo, kota kecil, kota Kesenian Reyog berasal dan tumbuh berkembang dengan cerita legendanya nan mempesona. Kesenian ini menjadi ikon disetiap kegiatan warga. Seperti Bersih Desa, Hajatan Perusahaan, Peringatan 1 Suro dan Purnama serta yang populer saat ini menjadi media pembelajaran kesenian di lingkungan pendidikan.


Namun, tidak hanya Kesenian Reyog yang ada di sini, Ponorogo juga menjadi tempat berkesenian tradisional Kesenian Reyog Thek, Gajah-gajahan, Onta-ontanan, Musik tradisional Cokekan dan Gong Gumbeng, Jaranan, Wayang, Teater dan Tari Kresi serta yang baru saja diadakan Dinas Budaya, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga yaitu Kesenian Musik Gejug Lesung.

4/19/2014

Slompret Reyog

Keunikan dibalik tangisan si Banaspati... Kali ini saya akan bercerita tentang sebuah alat musik tradisional yang penuh misteri. alat tersebut adalah "Slompret Reyog".

Kenapa disebut unik? 

Kalo diperhatikan secara detail instrumen ini ternyata memiliki banyak keunikan salah satunya adalah suaranya yang melengking. instrumen ini yang membuat pertunjukan Reyog menjadi angker, karena instrumen Slompret menggambarkan irama kesedihan yang dipadukan dengan irama semangat dari Kempul Kenong maka terciptalah suatu irama yang aneh tapi menarik.


"Slompret" terdiri dari beberapa komponen, pada umumya adalah kayu Mentaos sebagai Cepor, tabung bambu tangga nada, kerucut Stainless sebagai Petingan pada tiupanya, kemudian Lambe sebagai pembatas serta Kepikan sebagai penghasil bunyi.

2/16/2014

gunung dan si anak setan

gunung...
diam namun berputar bersama bumi,
subur pohonnya, aman keluarganya,
suatu ketika salah satunya,
si anak setan...
berontak, durhaka... seiring bisikan bapa setan,
tanpa terkecuali, keluarganya ditendang hingga jatuh semua,
rajadiraja alam semesta raya-pun murka padanya,
bergemuruh berasap hitam,
gempa...
luluh lantag, teggelam!
hanya mereka yang suci dalam ketenangan,
bahagia bersama hingga senja...

1/31/2014

Bahasa Inggris dan Bahasa Lokal

Peta Indonesia
Bahasa Pemersatu Negeri ini adalah Bahasa Indonesia (Indonesian Language). Mempersatukan semua pulau dari Sabang sampai Merauke yang berjajar di bawah Panji-panji Merah Putih. Bahasa yang besar dan arif. Begitu juga dengan Bahasa Inggris merupakan Bahasa Pemersatu Kerajaan Inggris Raya.

1/20/2014

Reyog dan Pisang

Reyog... Sebuah kata yang dekat dengan kata Ponorogo dan mempunyai sejarah panjang dan terus berkembang. Seperti Pohon Pisang di ladang yang bertunas muda. Walaupun kelak Ibu Pisang mati, tunas muda bisa bertahan.


1/08/2014

Rembulan dan Matahari

Sekilas Filem Klasik "Rembulan dan Matahari" [1979]


Sutradara/Skenario: Slamet Rahardjo Pemain: Christine Sukandar, Djago Sasongko, Hasan Sanusi dan Nungki Kusumastuti. Tentang MITOS yang berkembang di Ponorogo, tempat para tokoh bermain, mengilhami judul film itu. Konon Ponorogo berasal dari dua kata: Pramono yang dalam bahasa Jawa berarti matahari -- sumber cahaya bagi rembulan dan seluruh kehidupan di bumi -- dan rogo yang berarti badan wadag.

8/22/2013

Tua Nan Muda

Pagi itu(22/8), Matahari mendahului mata ini memulai aktivitas, alias saya bangkong(bangun kesiangan). Memang apa-apa(negasi dari tidak apa-apa). Pagi itu saya bergegas berangkat ke Desa Kalisat, Bungkal, Ponorogo. Tujuannya mengantarkan satu set kurang 2 buah Angklung yang tua dan rusak ke pengrajin/ seniman Angklung agar diperbaiki(alias servis). Angklung ini adalah bagian dari seperangkat gamelan Organisasi dan Paguyuban yang saya ikuti.

 
Beberapa menit kemudian, sampailah saya di rumah pengrajin/ seniman tersebut. Halaman yang cukup luas dan bangunan tua yang masih berdiri. Tak lama, seorang "tua nan muda" berjalan keluar, mengajak masuk ke dalam bangunan tersebut. Tujuan awalpun saya sampaikan. Belum sempat berkenalan, simbah bergegas ke serambi samping rumahnya yang di pinggir jalan raya dan berpemandangan jauh di timur sawah serta pegunungan Wilis.

8/19/2013

"Pi"

"Pi"
ketika kau berdiri di seberang, mendekat, terus mendekat, lebih dekat, sangat dekat, dan ingin kudekap . . . tiba-tiba suara merdu memanggilmu, kau menoleh, berjalan ke arahnya, menjauh, terus menjauh, lebih jauh, dan menyelamlah . . . sesekali kau terlihat menghirup udara dan tertawa . . . hilang, terlihat, hilang, terlihat, hilang . . . sedang aku tetap menari dan berdendang . . . merangkak, berdiri, melompat, berlari, dan berhenti ketika kau terlihat . . . dari atap telaga, di hadapan matahari, di antara pepohonan tinggi nan tua . . . "Pi"

8/05/2013

Kembali

Bulan Ramadhan untuk tahun ini hampir usai, Hari Kemenangan Idul Fitri tinggal beberapa langkah lagi, akankah kita menang? silahkan jawab, tentunya dengan wiraga, wirama, dan wirama yang dapat dipertanggung jawabkan. Pada diri sendiri, orangtua, lingkungan, dan tentunya kepada TUHAN.

Alun-alun Ponorogo
Jalan-jalan mulai ramai dengan lalu-lalang manusia, berjalan, berlari, dengan berbagai perasaan yang berbeda. Senang, susah, ikhlas, ataupun marah, silih berganti dan berarus. Salah banyak dari mereka, sebut saja dengan nama "Pemudik". Pemudik itu melakukan perjalanan kembali dari tempat yang jauh di mato orangtua. Kembali dengan membawa hasil perjuangan hidup yang sementara dihentikan, untuk bercengkrama kembali dengan suasana tanah leluhur.

5/02/2013

gayeng

Gayeng, karena rasa adalah segalanya

Ponorogo telah terkenal dengan Kesenian Reyog. Sedangkan saya hanyalah makhluk yang akan membusuk di makan bakteri pengurai, dengan kata lain kiamat sugro (T.T) . . . . wes hewes hewes bablas nyawane. Salam damai untuk semua makhluk Allah SWT.

Postingan tentang kata “gayeng”, sebuah kata yang beberapa kali ini menggetarkan gendang telinga hingga tersimpan dalam-dalam dipikiran. Setiap kali ada latihan ataupun pementasan Kesenian Reyog, kata “gayeng” sering terucap jelas dan dibumbui canda tawa terbahak-bahak dalam pertemuan gerak dan irama. Memang menyenangkan dan memuaskan.